Rumah, Adalah sebuah tempat tuk berpulang. Sebuah tempat tuk berlindung. Sebuah tempat tuk hidup. Namun, Adakah rumah untukku? Rumah yang bersedia menampung diriku, baik suka maupun duka. Rumah yang menerima diriku ketika diriku sedang berbuat kesalahan. Rumah yang dapat membimbingku menjadi anak yang baik? Tolong, aku butuh rumah. Tata, 12 maret 2019
Apalah daya si pembuat onar jika dibandingkan materi yang lebih berharga? Apalah daya si tak bisa apa-apa dibandingkan mereka yang bisa apa-apa? Apalah daya si pembuat masalah dibandingkan mereka yang dibesarkan secara harmonis? Apakah ini salah yang membesarkannya? Orang tuanya? Ataukah si anak itu sendiri? Apalah daya anak yang selalu dibanding-bandingkan dengan mereka yang lebih? Dengarlah, tak semua orang sempurna, begitu pula dengan anak itu. Mengertikah mereka bahwa dia hanya butuh kasih sayang lebih? Butuh perhatian lebih? Pernahkah mereka mencoba memahami nya ? ataukah berpikir dari sudut pandang nya? Ataukah, tahukah mereka kondisi psikis anak tersebut? Bahagiakah? Sedihkah? Stresskah? Depresikah? Sebuah cita pun rela ia korbankan demi realita yang menunggunya di depan sana. Berharap kelak ia dapat membahagiakan mereka secara adil tanpa adanya perdebatan lagi. Sebab ia lelah, dan berharap ingin hidup secara normal. Tak apa, ia rela tak ikut makan ...
Topengku Adalah bersikap acuh dan liar Hatiku Hanyalah menginginkan kebahagiaan Salahku Selalu saja melakukan kesalahan Ah wajar saja Aku hanyalah manusia biasa Yang tak luput dari kesalahan Namun bedanya Aku selalu saja menjadi gudang masalah Salahkah aku?
Komentar
Posting Komentar