Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

Batas

Pukul aku jika kau marah Pukul aku jika aku salah Pukul aku jika tak berguna Tetapi Jangan salahkan aku yang mendendam Mendendam akan setiap kata yang kau lontarkan Setiap pukulan yang kau berikan Hingga akhir hayatku Anak tetaplah anak Yang selalu salah dimata orang tua Namun tak punya hak angkat suara Anak juga manusia Punya hak untuk berpendapat Punya hak akan kebebasan Punya hak untuk kedamaian Apakah derajatmu telah menyamai tuhan? Sehingga kau berhak atas segalanya? Anak hanyalah titipan tuhan Tuhan juga murka jika kau semena-mena terhadapnya Jangan salahkan tuhan jika sang anak ditarik kembali Kembali disisi-Nya Jangan sombong Anak juga punya batas Batas akan tekanan batin Batas akan tekanan dunia Anakmu Ingin berbagi cerita Namun selalu kau hiraukan Anakmu  Semakin jauh darimu Namun kau tak sadar sebabnya Hai orang tua Sadarkah dirimu tlah menoreh luka? Tak sadarkah akan sikapmu atas semuanya? Aku yakin, se...

Topeng

Topengku Adalah bersikap acuh dan liar Hatiku Hanyalah menginginkan kebahagiaan Salahku Selalu saja melakukan kesalahan Ah wajar saja Aku hanyalah manusia biasa Yang tak luput dari kesalahan Namun bedanya Aku selalu saja menjadi gudang masalah Salahkah aku?

Patah

Keluarga Harusnya saling menguatkan Saling memberi semangat Saling membantu Dikala engkau kesusahan Dikala engkau putus asa Dikala engkau bersedih Saudara Harusnya saling memahami saling mengasihi saling mendukung satu sama lain Tetapi Semuanya hanyalah ekpektasi Takdir Sudah begini takdirmu Hancur Hancur sudah harapanmu -Tata, 21 maret 2019

'ia'

Apalah daya si pembuat onar jika dibandingkan materi yang lebih berharga? Apalah daya si tak bisa apa-apa dibandingkan mereka yang bisa apa-apa? Apalah daya si pembuat masalah dibandingkan mereka yang dibesarkan secara harmonis? Apakah ini salah yang membesarkannya? Orang tuanya? Ataukah si anak itu sendiri? Apalah daya anak yang selalu dibanding-bandingkan dengan mereka yang lebih? Dengarlah, tak semua orang sempurna, begitu pula dengan anak itu. Mengertikah mereka bahwa dia hanya butuh kasih sayang lebih? Butuh perhatian lebih? Pernahkah mereka mencoba memahami nya ? ataukah berpikir dari sudut pandang nya? Ataukah, tahukah mereka kondisi psikis anak tersebut? Bahagiakah? Sedihkah? Stresskah? Depresikah? Sebuah cita pun rela ia korbankan demi realita yang menunggunya di depan sana. Berharap kelak ia dapat membahagiakan mereka secara adil tanpa adanya perdebatan lagi. Sebab ia lelah, dan berharap ingin hidup secara normal. Tak apa, ia rela tak ikut makan ...

Cerita 1

Perkenalkan, Namaku Qanitah Ameliah, umurku menjelang 19 tahun. Memiliki 6 orang tua, kaget? Jangan, cukup aku saja, kamu jangan wkwk. Mengapa 6? Sepasang orang tua kandung, sepasang orang tua tiri, sepasang pula untuk orang tua angkat. Orang tua angkat? Yapsss, diriku diangkat menjadi anak oleh om dan tanteku. Mengapa? Entahlah, yang kutahu tak ada diantara orang tuaku yang memenangkan hak asuh aku dan kakakku. Sejak berumur 1 tahunan aku tlah dititip dirumah tanteku ketika ibuku ingin bepergian sedangkan ayahku sedang bekerja. Cukup banyak yang ingin kuceritakan, namun sepertinya akan kuceritakan secara perlahan ya... sekian dariku untuk saat ini. Salam hangat,Tata 12 maret 2019

Rumah

Rumah, Adalah sebuah tempat tuk berpulang. Sebuah tempat tuk berlindung. Sebuah tempat tuk hidup. Namun, Adakah rumah untukku? Rumah yang bersedia menampung diriku, baik suka maupun duka. Rumah yang menerima diriku ketika diriku sedang berbuat kesalahan. Rumah yang dapat membimbingku menjadi anak yang baik? Tolong, aku butuh rumah. Tata, 12 maret 2019