'ia'
Apalah daya si pembuat onar jika dibandingkan materi yang
lebih berharga?
Apalah daya si tak bisa apa-apa dibandingkan mereka yang
bisa apa-apa?
Apalah daya si pembuat masalah dibandingkan mereka yang
dibesarkan secara harmonis?
Apakah ini salah yang membesarkannya? Orang tuanya? Ataukah si
anak itu sendiri?
Apalah daya anak yang selalu dibanding-bandingkan dengan
mereka yang lebih?
Dengarlah, tak semua orang sempurna, begitu pula dengan anak
itu.
Mengertikah mereka bahwa dia hanya butuh kasih sayang lebih?
Butuh perhatian lebih?
Pernahkah mereka mencoba memahami nya ? ataukah berpikir
dari sudut pandang nya?
Ataukah, tahukah mereka kondisi psikis anak tersebut?
Bahagiakah? Sedihkah? Stresskah? Depresikah?
Sebuah cita pun rela ia korbankan demi realita yang
menunggunya di depan sana.
Berharap kelak ia dapat membahagiakan mereka secara adil
tanpa adanya perdebatan lagi.
Sebab ia lelah, dan berharap ingin hidup secara normal.
Tak apa, ia rela tak ikut makan dan berkumpul bersama
temannya sebab tak ingin membebankan mereka lagi.
Mencari kesana-kemari sebuah pekerjaan sampingan agar dapat
meringankan mereka.
Tak apa, malu pun tak ia pedulikan.
Tak apa, ia tak apa jika ia berbeda dengan anak lainnya.
“maaf aku tak punya uang”, kalimat yang berulang-ulang
ia lontarkan.
Lelah, ia lelah.
Menyerah, ia ingin menyerah.
Tapi, banyak nyawa yang akan ia pertanggung-jawabkan kelak.
Sekali lagi, hak ku untuk menyerah pun direnggut.
Tangisan, kering sudah.
Hati, hancur sudah.
Tolong, ia ingin dimengerti.
hentikanlah semua ini.
Komentar
Posting Komentar