Postingan

13 November 2020

Badanku bergetar, Napasku memburu, Hatiku berdebar, Otakku berputar, "Apa yang salah denganku?" "Kapan bayang-bayangnya hilang dari kepalaku?" Tiap hari kuingatkan diri ini; "mengapa kau bersedih sementara ia berbahagia?" Andai sejak awal logika ku menang, Aku takkan seperti ini, Ikhlas, itu yang kubutuhkan, Kupanjatkan doa untuk membuat hatiku ikhlas, Berharap kelak Tuhan melapangkan hatiku. - Tata

Engkau

sebenarnya, apa yang kutunggu? apa yang kunantikan? dada maupun pikiran ini begitu berkecamuk, ingin melepas namun tak rela, ingin bertahan namun begitu sakit, segala upaya telah kucoba tuk menahanmu, doa demi doa kusebut namamu, namun apalah daya, kau nyaman dipelukan lainnya, seperti angin badai, rubuh sudah hatiku, kau melepasku demi masa lalumu, mungkin aku tak membuatmu nyaman senyaman masa lalumu, itukah sebabnya? atau mungkin kau takut atas penilaian orang terhadapmu? takut kau dinilai jelek karenaku? pecundang!! dulu saat kau merebut hatiku kau bagai satria tak kenal takut, kau dengan mulut besarmu dengan gagah beraninya meyakinkanku atas dirimu, kau renggut hati yang sudah kujaga dengan baik sebab ia begitu rapuh, hati yang sekali saja kau sentuh bisa hancur bagaikan debu, oh... segala perkataan manismu masih saja membekas diingatanku... oh... perihnya hati hingga sakit pada fisik pun tak terasa lagi, hei kau, banggakah engkau atas hak milik yang kau dapatkan atas diriku? sehi...

hi

Bodohkah aku karena melukai diri sendiri? Mungkin iya, mungkin juga tidak... Mengapa? sebab itu adalah salah satu bentuk pertahanan diri, Irisan demi irisan, perih namun memberikan effort yang nikmat, Warnanya... merah pekat, Perih, namun hati terasa ringan, Hei... siapapun yang membaca ini, jangan memberitahu siapa-siapa ya... Cukup kita saja yang tahu...

-

 Ternyata aku lemah, Aku tak sekuat yang kupikirkan, Hatiku tak setegar yang kukira, Tuhan... Sanggupkah aku menjalani ujian-Mu? Marah kah Engkau terhadapku? Atas segala perbuatanku? Maafkan aku yang sering berpaling, Maafkan aku yang sering melakukan dosa-dosa besar, Sungguh, kupikir dengan berbuat dosa lubang dihatiku dapat tertutupi, Kupikir dengan menyakiti diriku sendiri dapat mengurangi rasa sakit dihati, Apakah ini karena aku bergantung pada manusia, Tuhan? Sehingga kau berikan kekecewaan secara terus menerus, Sehingga kau hancurkan hati melalui hamba-Mu? Cukup Tuhan, aku hanya ingin bahagia, Bahkan bahagiaku tak pernah sampai sebulan, lalu kau renggut lagi, Mengapa tak sekalian kau renggut nyawaku? Nyawa yang dipenuhi dosa, Sebab aku tak lagi punya harapan.

Lagi

Mentalku, mulai terganggu lagi. Sikapku, menjadi aneh lagi. Ingin menghilang, Ingin menyerah, Ingin tiada. Berasa tak ada harapan hidup. Senyumku, menghilang lagi. Ekspresiku, mendatar lagi. Hatiku, tak tahu lagi.

Masa lalu

Seakan tidak sadar Ternyata hidupku selalu terikat dengan masa lalu Rantai yang mengikat kakiku Menghalangiku untuk maju kedepan Dengan berpura-pura berbaur Sepasang topeng pun mulai terpasang nyaman Tapi sayang sekali Sekali lagi, rantai ini mengingatkanku Mengingatkan bahwa aku masih terikat Semakin lama, semakin buram pula ingatanku Ingatan tentang hal yang mengikatku di masa lalu Namun hati ini terus mengingat Mengingat rasa sakitnya Mengingat kepedihannya Mengingat kerinduannya Tapi apa? Hal apakah itu? Sekali lagi, hal itu sudah terlalu lama hingga membuatku melupakannya