Engkau
sebenarnya, apa yang kutunggu?
apa yang kunantikan?
dada maupun pikiran ini begitu berkecamuk,
ingin melepas namun tak rela,
ingin bertahan namun begitu sakit,
segala upaya telah kucoba tuk menahanmu,
doa demi doa kusebut namamu,
namun apalah daya, kau nyaman dipelukan lainnya,
seperti angin badai,
rubuh sudah hatiku,
kau melepasku demi masa lalumu,
mungkin aku tak membuatmu nyaman senyaman masa lalumu,
itukah sebabnya?
atau mungkin kau takut atas penilaian orang terhadapmu?
takut kau dinilai jelek karenaku?
pecundang!!
dulu saat kau merebut hatiku kau bagai satria tak kenal takut,
kau dengan mulut besarmu dengan gagah beraninya meyakinkanku atas dirimu,
kau renggut hati yang sudah kujaga dengan baik sebab ia begitu rapuh,
hati yang sekali saja kau sentuh bisa hancur bagaikan debu,
oh... segala perkataan manismu masih saja membekas diingatanku...
oh... perihnya hati hingga sakit pada fisik pun tak terasa lagi,
hei kau, banggakah engkau atas hak milik yang kau dapatkan atas diriku?
sehingga engkau menganggapku dengan begitu entengnya?
terima kasih, mungkin inilah jawaban atas semua doa-doaku tentangmu,
percuma ku banggakan engkau dihadapan Tuhan,
kau saja tak pernah membanggakanku dihadapan setiap orang,
lihat aku pecundang!!
walaupun hatiku akan kau miliki seterusnya, takkan kubiarkan ragaku menyambutmu kembali,
kutarik segala perkataanku tentang menunggu kepulanganmu,
kau bahkan tak ingin berpulang sedikitpun padaku,
sungguh miris segala perkataanku,
sungguh miris hidup percintaanku,
sungguh mirip kehidupanku ini,
Tuhan begitu indah dalam membuat skenario hidup hingga tak dapat lagi tercerna keindahan itu padaku.
Komentar
Posting Komentar